Episode 11: How 3 Founders Met In Business School And Joined Forces

Selamat datang di GO FIGURE. Saya Nadiem Makarim, CEO & pendiri GOJEK,
Super-App pertama di Asia Tenggara. GOJEK melakukan ride-hailing,
pesan-antar makanan, pembayaran, bahkan jasa pijat-urut. Semuanya ada di GOJEK. GO-FIGURE adalah podcast yang memaparkan
cara kerja perusahaan teknologi ambisius di dunia yang sedang berkembang. Di sini kami membahas berbagai hal
yang kami sukai dan tidak kami sukai. Banyak mitos yang ingin kami luruskan.
Mantra kami adalah menjadi apa adanya.

Selamat menikmati! Selamat datang di Go Figure.
Hari ini kita punya sesi sangat spesial. Kita punya episode sangat spesial
karena ada dua mantan mentor saya, dua wirausahawan, dua pendiri,
dari Indonesia. Kita bertemu di Harvard Business School./
Ya. Dalam perjalanan itu,
kita menggabungkan ketiga perusahaan kita. Dan inilah kita sekarang. Di sini ada teman saya, Ryu./
Hai, semua. Apa kabar, Ryu?/
Ada Aldi. Hai, semua. Untuk memberi konteks
tentang posisi mereka sekarang di Gojek, dan mereka akan menjelaskan
latar belakang mereka.

Aldi adalah CEO GoPay,
memimpin layanan pembayaran dan keuangan. Ryu adalah kepala yang menangani semua hal
tentang super-app merchant kita. Banyak orang cenderung lupa,
Gojek bukan hanya super-app konsumen. Kita juga memiliki super-app
untuk usaha kecil dan menengah. Platformnya dikelola oleh Ryu.
Apa kabar, teman-teman? Bagaimana kita sampai di sini?
Bagaimana kita sampai di sana? Perjalanannya panjang.
2012 adalah awal semuanya. Itu saat kita pertama bertemu? Bukan, kita bertemu lebih awal sebenarnya.
Kita bertemu tahun 2008. Oh ya. Bertemu sebentar. Saya bertemu dengan kalian tahun 2011.
Maaf, 2010. Saya bertemu dengan kalian tahun 2010
saat masuk ke kampus itu. Ya, saya bertemu dia tahun 2008.
Tahun akademik pertama.

Hanya ada dua orang Indonesia di kelas. Itu betul.
Saya menemukan kamu. Ya./
Orang Indonesia satunya. 2009 atau 2008, ya? 2009./
Maaf, 2009. Aldi tidak bisa berhitung.
Itu sangat penting sebagai CEO GoPay. Kamu menobatkan diri
sebagai pemakai Execl terbaik di sini. Dengan latar belakang private equity kamu.
Ceritakan latar belakang kamu. Saya berdarah campuran Jepang – Indonesia.
Ibu saya orang Jepang. Jadi, bahasa Jepang saya sangat fasih.
Saya besar di Indonesia. Sekolah di Jakarta Intercultural School.
Melanjutkan kuliah di AS.

Bekerja beberapa lama di bidang perbankan
dan private equity. Itulah afiliasi saya dengan Northstar
karena saya bekerja di TPG Capital. Salah satu cabang Northstar
adalah investor pertama kita. Saya bertemu Patrick Waluyo tahun 2007.
Sudah lama. Lalu, saya kuliah di HBS, AS. Di HBS, saya memulai perusahaan, Midtrans.
Saya di sini sekarang. Bisa jelaskan apa Midtrans itu? Midtrans itu perusahaan pembayaran daring
seperti Braintree, Stripe, Adyen Indonesia Kami membantu banyak perusahaan e-commerce
untuk menerima pembayaran daring. Kami adalah salah satu pemain terbesar
di pasar saat ini. 70% dari semua perusahaan e-commerce
di Indonesia bekerja sama dengan kami. Sebagai gerbang utama
atau gerbang cadangan mereka. Midtrans adalah gerbang pembayaran GoPay
agar semua opsi pembayaran bisa masuk. Bukan hanya dompet GoPay. Banyak merchant daring dan luring berjalan
melalui mesin kamu sekarang. Kami membawa sistem pemerolehan
ke ekosistem Gojek secara keseluruhan.

Merchant sangat berbeda
dengan pengguna atau driver Gojek. Driver dan pengguna Gojek adalah individu.
Merchant, entitas dengan banyak pengguna. Entitas bisa bekerja dengan entitas lain
melalui hierarki bank. Intinya, kami mencoba membawa semua itu
ke ekosistem Gojek. Persis seperti yang saya bilang di awal. Saat saya mengajak Ryu bergabung,
bisnis B2C ada dalam darah kita. Kita sangat mengetahui konsumen kita. Itu ada dalam darah kita,
tapi pemahaman kita tentang bisnis buruk.

Kami tidak bisa sebagus kamu.
Itu mantra saya untuk meyakinkan kamu. Kamu melakukan banyak hal./
Ada yang berhasil dan gagal. Kamu seperti memaksa./
Memaksa? Ya ampun. Jangan membicarakan itu.
Jangan begitulah. Jangan terlalu jujur. Aldi, ceritakan sedikit
tentang latar belakang kamu. Saya orang Indonesia,
besar di luar Jakarta. Saya kuliah teknik informatika di Purdue,
lalu keluar dari situ. Bekerja sebentar untuk EY.
Memulai karier jasa keuangan di Kiva. Perusahaannya sangat kecil.
Hanya ada 6 orang waktu itu. Jasa pinjaman antarrekan. Saya membantu Kiva mencari mitra
di Asia Tenggara. Sering mengendarai sepeda motor
di Asia Tenggara untuk mencari bank keuangan mikro. Lalu, karena butuh uang untuk menikah,
saya bekerja di BCG. Kita semua pasti begitu./
Ya, alasan sangat praktis. Di BCG, saya kembali mengerjakan
banyak proyek jasa keuangan. Di situ saya memulai perusahaan, Mapan,
persis sebelum kuliah bisnis. Dulu namanya Ruma. Kami hanya membantu influencer kecil
untuk memberi akses ke layanan pembayaran top-up ke tetangga mereka.

Kami kehabisan uang
untuk menjalankan perusahaan itu dan butuh tempat untuk mencari orang
yang punya dana. Lalu, saya kuliah bisnis
dengan harapan bisa menggalang dana. Jadi, itu motivasi besar kamu.
Mencari dana dan anggota tim untuk Mapan. Waktu itu tidak ada VC di Indonesia.
Kalian ingat, sulit menggalang dana. Saya tidak kenal siapa pun
yang punya modal investasi besar. Saya pikir Harvard dan sekolah bisnis
tempat mendapatkan itu. Dan memang berhasil. Saya ingat saat melihat kamu
mengikuti kompetisi social enterprise. Kompetisi bisnis. Kamu menang, kan?/
Ya, saya menang. Saya ingat waktu itu saya sangat iri
karena orang Indonesia yang satunya menyabet penghargaan social enterprise,
saya belum punya startup waktu itu. Hanya ada dua orang Indonesia
di angkatan kamu. Dan 2 orang Indonesia di angkatan saya./
Betul. Saya dan Salomo.
Sekarang dia bekerja di Bank Indonesia. Ada Rika Krusanto
yang berakar sangat kuat pada Indonesia. Seingat saya,
ada tiga orang Indonesia di angkatan saya. Mengapa ada sedikit orang Indonesia di HBS
padahal penduduk kita sangat banyak? Saya tidak tahu.
Bagaimana cara kamu bisa masuk ke HBS? Cara saya sangat kreatif.
Waktu itu ada geng orang Asia Tenggara.

Gengnya kecil. Mengingat Asia Tenggara dan perjuangan
saat mendaftar ke sekolah bisnis, saya merasa sangat beruntung. Saya bekerja di perusahaan private equity,
masuk ke sekolah bisnis. Mereka membantu saya
membuat pengajuan yang benar dan menjawab dengan tepat saat wawancara. Saya tidak tahu apakah orang lain
memiliki akses seperti itu. Banyak kaitan dengan keuangan. Tidak banyak orang yang tahu
sekolah bisnis memberi bantuan finansial.

Syaratnya, kamu berprestasi dan mampu
dan mengikuti proses pendaftarannya. Banyak orang menganggapnya menakutkan. Mengapa kamu masuk ke sekolah bisnis,
Nadiem? Alasan saya sangat sederhana.
Saya merasa lelah dengan konsultan. Saya mengambil libur dua tahun,
mencari tahu hal yang akan saya lakukan. Saya berharap punya jawaban
yang lebih baik. Saya setuju. Benda pertama yang saya beli waktu itu
TV 42 inci di Sony Playstation 4 dan Final Fantasy terbaru. Tunggu sebentar. Kamu memulai perusahaan kamu
persis sebelum atau saat kuliah di HBS? Saat kuliah di HBS.
Aldi, kapan kamu memulai perusahaan kamu? Persis sebelum./
Bagaimana dengan kamu, Nadiem? Dari kita bertiga,
sebenarnya Aldi mengambil risiko terbesar. Kamu mendirikan perusahaan
dan meninggalkannya selama 2 tahun. Kami berdua berasal dari dunia profesional
dan hanya ingin melihat hal yang terjadi. Saya harus mencari tempat sementara.
Kamu ingat Budiman? Waktu itu amat sulit. Perusahaan saya mandek
karena saya gagal mengembangkan modal.

Saya berjuang menyeimbangkan perusahaan
yang saya dirikan dengan BCG. Sekolah bisnis seperti liburan.
Saya tetap bermain sepak bola. Apa pendapat kalian
tentang belajar di sekolah bisnis? Banyak yang bertanya seberapa penting
sekolah dalam perjalanan wirausaha saya. Jujur, jawabannya 50:50. Ada hal-hal yang berguna dan tidak berguna
untuk perjalanan wirausaha saya. Mungkin pendapat kalian berbeda.
Apakah dampaknya transformatif untuk kamu? Apa hal yang berguna untuk kamu? Melihat kalian bekerja,
memulai banyak hal. Melihat kalian dan banyak teman lain
menggalang dana untuk banyak startup
teknologi dan nonteknologi lain. Saya merasakan kecemasan
dan berkata kepada diri sendiri, “Mereka saja bisa. Saya juga bisa."
Saya mahasiswa HBS juga. Saya yakin saya bisa.
Motivasi itu mendorong saya untuk maju. Apakah pelajaran atau kurikulumnya
membantu saya menjadi pendiri lebih baik adalah pertanyaan besar. Saya tidak tahu. Masih 50:50./
Setuju. Melihat orang lain membuat perusahaan
membuat kamu berpikir bisa melakukannya. Lingkungan pertemanan di HBS
adalah hal yang transformatif untuk saya.

Betul. Diskusi informalnya.
Makan siang, makan malam, menongkrong. Hal-hal semacam itu.
Awalnya, saya akui merasa agak terganggu. Saya merasa ada kontes pamer. Tiap orang menceritakan pengalamannya
dulu dan sekarang. Banyak orang yang membual.
Saya harus jujur tentang itu. Di satu titik,
itu kontes mengukur kemampuan. Sedikit mirip kontes begitu. Seiring waktu, kamu bertemu orang jujur
yang bertujuan menyelesaikan masalah. Percakapan itu paling produktif & berguna.
Saya tidak tahu. Apakah kamu punya titik balik,
momen inspiratif, atau teman inspiratif? Tidak juga. Saya sangat beruntung.
Saya punya banyak teman hebat. Jika harus menyebut satu orang atau grup,
mungkin tidak ada. Berbicara tentang nilai tujuan bisnis
untuk memulai perusahaan. Jika saya mengambil libur 2 tahun
atau bertemu dengan banyak orang, saya mungkin akan membuat perusahaan juga,
yang mungkin berbeda.

Saya tak tahu jenis perusahaan
yang akan lebih sukses. Saya akan tetap buat perusahaan./
Mengapa berbeda? Apa faktor dalam HBS yang membuat kamu
memilih gerbang pembayaran? Saya tidak tahu
apakah jenis perusahaannya akan berbeda. Intinya, masa kuliah saya di HBS
berdampak transformatif dan membantu saya. Tapi, saya tidak bisa membandingkannya
dengan rute yang tidak saya ambil. Itu hal yang tak begitu jelas untuk saya. Keluarga saya memiliki bisnis sendiri.
Mereka juga wirausahawan. Selalu ada tekanan keluarga kepada saya
untuk memulai perusahaan sendiri juga. Untuk melanjutkan tradisi
dan berdiri sendiri juga. Itulah alasan saya membuat perusahaan./
Menarik. Bagaimana HBS membantu kamu? Kamu betul. Orang yang kamu temui bisa diajak diskusi,
membangun ikatan dalam prosesnya. Jujur, tujuan saya praktis.
Saya butuh uang. Perusahaan saya akan tutup
jika saya tidak mendapatkan uang. Momen penting untuk saya
adalah menang kompetisi social enterprise. Tiap orang mengenal Aldi setelah itu./
Dan kita menemukan investor. Ada Patrick yang berinvestasi.
Ada bintang lain di Northstar, Grameen. Ada pendiri E-Bay, Omidyar berinvestasi
dan memberi saya ruang bernapas.

Jujur, saya tidak tahu
apakah akan menyarankan memulai perusahaan saat bersekolah bisnis
karena di zona waktu lain. butuh banyak waktu, Ryu punya pengalaman yang sama./
Buruk. Saya tidak akan menyarankannya. Kamu bisa mempertimbangkannya,
tapi tak tahu apakah harus menjalankannya. Waktu itu, saya punya tanggungan.
Ada 30 – 40 karyawan. Ada banyak orang yang menggantungkan
penghasilannya kepada kami. Saya punya tanggung jawab
dan HBS membantu saya dalam hal ini. Saya juga jadi punya akses ke banyak orang
yang saya temui dalam banyak acara dan berjejaring. Saya bertemu dengan teman sekelas, alumni,
startup, dan investor lain waktu itu. Senang kita dikelilingi oleh banyak orang
yang bisa diajak bertukar pikiran.

Jika kamu ingin memulai perusahaan,
dengan modal usaha yang sudah ada dan jumlah jejaring mentor
dengan Endeavor, Sequioa, dll. saya tidak yakin apakah gelar MBA
masih sepenting sebelumnya. Pendapat saya sama. Saya selalu heran dengan orang-orang
yang bekerja di perusahaan teknologi mapan yang masih berpikir memperoleh gelar MBA. Saya menjadi mentor banyak karyawan muda
yang sangat berbakat di bidangnya. Saya selalu berkata MBA sangat bagus
untuk mencari ide baru dan terinspirasi oleh rekan sejawat
daripada cara lain. Menjalin pertemanan langgeng
itu hal terpenting dalam sekolah bisnis. Saya menjalin pertemanan yang langgeng.
Masa kuliah berfungsi begitu untuk saya. Jika kamu bekerja di bidang teknologi,
biaya peluang dua tahun untuk meningkatkan keahlian
dalam perusahaan teknologi bernilai lebih besar dalam hal tujuan. Karena itu, saya harus mengakui
bahwa nama HBS sangat kuat untuk membuka banyak pintu
bagi kita yang tinggal di Asia. Saya bisa rapat dengan level C mana pun
dan dianggap kredibel, setidaknya dalam pembukaan diskusi.

Tidak sekarang? Sekarang masih?/
Maksud kamu, secara umum? Jika perusahaan kamu menjadi unicorn,
kamu tidak butuh gelar MBA. Tapi, jika kamu baru memulai,
nama berperan penting, apalagi di Asia. Itu lebih terlihat di Asia
dan alasannya salah. Saya tidak tahu. Sangat mungkin bahwa
orang yang masih mengandalkan nama tidak bertindak dengan benar. Kamu harus lebih mandiri./
Setuju. Kamu harus benar-benar memanfaatkannya
untuk mendapatkan hal yang kamu inginkan. Banyak orang melakukannya. Banyak generasi muda yang mengelirukan
keinginan mendapatkan nama itu dengan dampak aktual
dalam karier di perusahaan teknologi. Setuju./
Ini kesalahan besar. Saat saya melatih,
banyak karyawan muda ingin gelar MBA sering karena mereka merasa kurang pintar
di atas kertas. Saya butuh bel dan peluit.
Saya butuh garnis, tanda validasi.

Perusahaan teknologi penuh orang sukses
tapi merasa tidak aman. Dulu, saya salah satu dari mereka. Boleh saja merasa begitu,
tapi harus jujur dengan yang kamu mau. Saya ingin tanda itu. Jika kamu membohongi diri sendiri
dan mengira itu akan membuat kamu menjadi wirausahawan teknologi lebih baik,
kamu salah. Cara terbaik untuk menjadi wirausahawan
adalah dengan langsung terjun atau belajar di perusahaan teknologi lain,
terutama startup teknologi. Mari bicara tentang perjalanan kita.
Apakah kamu tahu hal yang kamu lakukan? Saya tambahkan satu hal tentang MBA./
Silakan. Kita melewatkan satu hal.
Berlibur 2 tahun bukan alasan buruk. Betul. Ini startup teknologi ketiga saya.
Kiva dan Mapan berkembang. Sekarang GoPay dan Gojek berkembang. Kamu belajar dalam waktu 2 tahun itu,
2-3 tahun bekerja di perusahaan teknologi.

Berlibur 2 tahun bukan hal yang buruk. Dalam hidup, kamu butuh itu
untuk bertemu orang dari seluruh dunia. Itu bermanfaat.
Saya tidak mengurangi arti pentingnya. Jika ingin belajar membangun perusahaan,
bekerja di perusahaan yang bertumbuh pesat bisa jadi cara tercepat dan paling efektif
karena kamu melihat semua masalahnya meskipun kamu tidak memimpin perusahaan. Itu wilayah yang sangat spesifik.
Tapi, saya ingin kembali ke maksud Ryu. Cara kita bergabung dan bertemu. Di pertengahan jalan pada tahun pertama,
kalian sudah berjalan dengan sangat baik. Aldi sudah punya perusahaan sendiri. Ryu akan memulai perusahaan baru
dengan ide kuat tentang perusahaan itu. Saya merasa tertinggal. Tapi, melihat kalian beraksi
menginspirasi saya untuk tidak tertinggal. Ada sedikit elemen persaingan di situ. Tapi, saat saya mengambil keputusan itu,
kalian menanyakan alasan saya. Meski tak ada yang mendanai Gojek,
kamu harus bekerja penuh waktu karena itu cara mendapat dana untuk Gojek.

Kamu ingat kita minum awal tahun 2014?
Di SCBD, Beer Hall. Ya, saya ingat./
Kita bertiga minum bersama. Kami berdua bertanya,
“Nadiem, apa yang kamu lakukan?” Ya./
Saya sangat marah waktu itu. Waktu itu kamu bekerja di Kartuku./
Ya. Kita mengakuisisi perusahaan itu juga. Komentar kamu waktu itu,
“Kalian mau mendanai saya?” “Ya, kami mau
jika kamu menjalankan Gojek penuh waktu.” Penuh waktu. Kamu berkata,
“Kalian mau mendanai saya sekarang? Saya akan bekerja penuh waktu." Kami selalu percaya pada kamu. Waktu itu, kami mencoba mendorong kamu,
tapi kamu masih belum yakin untuk terjun. Syukur kamu tidak ikut banyak saran kami. Saya sarankan driver bekerja penuh waktu
daripada mengalihdayakannya. Itu betul. Saya ingat itu./
Saya senang kamu tidak mengikutinya.

“Semua driver harus bekerja penuh waktu."/
Saya ingat mengatakan itu. Ya ampun. Satu momen yang pantas diingat,
saat kamu membantu saya menggalang dana pada musim panas. Ya. Saya ingat itu./
2010, dia menjadi karyawan magang. Ya, saya karyawan magang kamu. Untuk audiens yang belum tahu,
saya memulai Gojek saat bermagang di startup Aldi pada musim panas. Dia alumni terbaik saya./
Saya harap begitu. Kamu membantu saya pada musim panas itu.
Kita mengejar proyek bersama. Kita bertemu banyak orang.
Itu saat kamu mulai melihat sepeda motor. Saya ingat kamu datang ke kantor,
memegang foto sepeda motor dengan pengemudi berseragam, dan berkata,
“Apa pendapat kalian tentang ini?” Itu mengalihkan perhatian saya. Itu bukan alasan kamu mempekerjakan saya
sebagai karyawan magang. Kamu membantu mencari dana,
dan kita berhasil. Kita berhasil.
Itu memenuhi KPI saya di musim panas itu.

Dan karyawan magang berbayar terbaik juga. Ada hal yang mengesankan
saat saya bermagang di Ruma. Satu hal yang saya pelajari dari kamu
dan organisasi kamu adalah bagian bawah piramida bisa produktif. Sektor yang sangat produktif
tapi sangat dipandang remeh di Indonesia dan di banyak negara lain. Itu yang mendorong saya. Dalam buku Peter Thiel “Zero to One”,
perusahaan besar dimulai dengan 1 rahasia. Saya selalu merasa bahwa rahasia di Gojek
adalah keyakinan akan produktivitas driver dalam sektor informal. Perusahaan lain tidak meyakininya. Saat bekerja untuk Aldi
yang selalu sangat karismatik, dia memberi tahu tentang para ibu
di pedesaan Indonesia yang menjadi tulang punggung
keuangan dan ekonomi keluarga. Itu membuat saya berpikir.
Bagaimana dengan ojek? Hal yang sangat unik adalah
kalian bukan hanya teladan, pesaing, dan mitra bisnis, tapi juga teman saya.

Pertemanan itu tidak terlalu dibicarakan
dalam banyak kisah para pendiri. Teman tepercaya yang mendorong kamu,
memberi tahu hal yang harus kamu dengar, bukan yang ingin kamu dengar. Saya berterima kasih kepada kalian
karena selalu melakukan itu dan lihat posisi kita sekarang. Terima kasih juga, bro.
Kamu ingat saat kita berkantor di Ciasem? Ya. Kamu di lantai atas./
Kamu di lantai bawah? Bukan, saya di lantai atas.
Kamu di lantai bawah. Ya, awalnya saya di lantai bawah./
Awalnya, itu TK yang kita renovasi. Saya waktu itu sangat berhemat atau murah
dan kamu mendekorasi kantor dengan … Murah adalah kata yang tepat.
Berhemat bukan kata yang tepat untuk kamu. Maaf. Saya membeli meja dari … Saya kasihan kepada tiap orang
yang bekerja di situ. Saya sudah pernah ke sana. Itu buruk, Aldi./
Saya tahu. Dengarkan teman-teman kamu. Kamu bilang, “Aldi, tempat ini buruk.
Kamu harus membeli kursi kantor.” Waktu itu saya membeli kursi anak SD
karena murah dan diobral.

Hal-hal kecil seperti itu sangat berarti./
Ya. Itu sangat menarik. Saya mengatakannya juga secara halus. Mungkin kamu mempertimbangkan
untuk meningkatkan mutu furnitur kantor. Ada banyak orang sangat berbakat di sana.
Mereka layak merasa lebih nyaman. Kamu harus ingat kita sulit bertemu
dan kita baru memiliki modal. Ada perubahan pola pikir, kan?/
Ya. Dulu kita orang social enterprise. Pendiri.
Tapi, kantor Ryu selalu apik. Ya ampun. Kantor Ryu selalu terkait dengan merchant
dan penjualan B2B.

Kantornya selalu menarik,
seperti berlokasi di Sudirman. Kalau datang ke kantor Ryu,
saya pikir saya salah memilih sektor. Ya, mejanya …/
Ya, saya punya standar. Itu tidak apa-apa. Kita belajar.
Itu yang kamu ajarkan kepada kami, Ryu. Orang butuh ruang dan waktu yang tenang./
Agar bisa produktif. Saya ingat itu./
Saya membuat kamu membeli Jabra. Betul! Luar biasa sekali perbedaan kita
dalam hal kepribadian dan gaya, tapi kita tetap bisa bekerja sama
dengan efektif hampir tiap waktu. Kita tetap menjadi sahabat. Ryu, kamu berdampak pada organisasi
dan saya secara pribadi. Jika Aldi akselerator, kamu adalah rem.
Kamu selalu bilang tunggu sebentar. Itu menyenangkan dan luar biasa.
Kita harus dan bisa melakukannya. Apa kalian pernah berpikir
tentang sisi negatifnya? Bagaimana rasanya menjadi wirausahawan
yang memimpin dan menolak risiko? Apakah itu kekuatan atau kelemahan?
Bagaimana? Apa rasanya? Dalam B2B, itu adalah kekuatan.
Dalam B2C, itu kelemahan.

Untuk konsumen dan pengusaha,
ada standar SLA yang berbeda. Sebagai perusahaan konsumen,
jika kamu salah, cukup minta maaf, berikan voucher,
dan besok mereka akan melupakannya. Kamu mau bilang sesuatu tentang Gojek?/
Saya berbicara secara umum. Kamu memberi saya masukan sekarang? Sebagai perusahaan B2B,
kamu bisa membuat kesalahan. Sistem kamu terkadang down
dan kamu minta maaf tapi itu tidak cukup. Mereka ingat. Kamu tahu./
Karena itu bisnis mereka. Itu berdampak pada bisnis mereka. Dalam B2B, kamu melayani perusahaan,
bukan individu. Kamu melayani seluruh anggota tim,
misalnya 20 atau 100 orang dalam satu tim. Saat menangani perusahaan e-commerce
terbesar di Indonesia, kamu melayani ribuan, puluhan ribu orang
yang mengandalkan kamu. Jadi, mereka tidak akan lupa. Dengan standar SLA yang tinggi,
risiko untuk menolak bisa membantu karena kamu bisa menjaga kelanjutan bisnis
dengan banyak perusahaan ini. Apakah proses transisinya sulit? Bagi audiens yang belum tahu,
kami menggabungkan perusahaan kami menjadi satu perusahaan. Apakah sangat sulit bagi kamu untuk masuk ke dalam perusahaan
dengan DNA risiko tinggi seperti Gojek? Itu pasti sulit.
Saya belajar banyak. Saya belajar bahwa di bidang
yang biasanya saya menolak risiko, saya bisa mengambil risiko. Itu hal terbesar yang saya pelajari
dari bergabung dengan Gojek.

Terkadang kamu merasa kesepian
karena hanya kamu yang berkata, “Ini buruk. Kita harus melambat.” Tapi, semua orang ingin maju saja
dan menjadi penyerang. Kamu seperti pemain bertahan yang kesepian
dalam pertandingan sepak bola karena semua pemain menyerang. Semua orang maju untuk mencetak gol. Hanya kamu yang ada di belakang.
Tapi, itu tidak apa-apa. Pakai pertandingan atau tim sepak bola
sebagai contoh. Pemain bertahan dan penjaga gawang
punya peran sendiri. Terkadang saya merasa jadi penjaga gawang
bagi merchant karena saya tidak melakukan banyak hal. Orang tidak tahu apa yang saya lakukan,
tapi saya berkontribusi. Kamu meremehkan nilai ekosistem merchant
yang merupakan masa depan seluruh bisnis. Kamu membuat kami tetap bertahan.
Saya tidak bercanda. Saya sangat suka analogi pemain bertahan
yang kesepian karena kamu kesepian tapi tidak sendirian. Ada orang lain yang sangat berhitung
dan menilai risiko. Bukan kita. Di level kita, kamu adalah benteng.
Kamu membereskan masalah. Kamu berperan besar dalam perusahaan. Menjadi pakar untuk saya dalam semua hal
mengingatkan agar saya tak berbuat salah. Ini hal yang sangat penting
karena tiap orang berusaha mencetak gol. Aldi terus mencoba mencetak gol
dan selalu berhasil. Aldi pemain sepak bola yang sangat bagus. Dia sering membobol gawang saya
dalam pertandingan sepak bola di HBS.

Di Gojek secara umum,
saya setuju ada pemain bertahan dan penjaga gawang lain. Tom memainkan peran itu.
Shinto memainkan peran itu. Nila juga memainkan peran itu, kan? Semua pemain bertahan
harus tampil dalam podcast berikutnya. Pemain bertahan./
Para penjaga. Orang-orang yang sedikit lebih paranoid. Kita harus menjadi seperti rem
untuk semua kegiatan di Gojek karena kita harus memastikan platform
dan perusahaan kita bertumbuh. Untuk bertumbuh, kita harus bertahan./
Nadiem, itu menarik. Dia pemain bertahan. Tapi, saat kamu memutuskan
untuk mengembangkan Gojek, pemain bertahan bilang
kamu harus mencetak gol. Apa hal yang membuat keputusan itu sulit?
Ryu berkata untuk terjun saja. Ryu ingin orang mengikuti perkataannya,
bukan tindakannya. Apa maksud kamu? Itu cara dia menyuruh
supaya saya melakukannya. Apa yang mendorong kamu
memberi saya saran untuk melakukannya? Logistik. Dulu, Gojek pemain logistik.
Saya kira itu cara kamu mendapatkan uang. Kita banyak berdiskusi tentang logistik. Dari dulu sampai sekarang,
saya melihat peluang besar dalam logistik. Itu kelemahan saya.
Saya tidak melihat skema B2C.

Saya tidak melihat Go-Food.
Saya tidak melihat Go-Ride. Saya melihat B2B dalam Go-Send. Saya melihat kebalikannya
karena ada di gedung yang sama. Kamu tidak ada di sana
karena bekerja di gedung lain. Saya menghubungi call center
dan seseorang memesan hal-hal aneh. Seseorang membawa laptopnya,
membawa makanan anjing, atau minta diantar berbelanja. Jika ada call center,
kamu bisa mengantarkan pesanan orang. Lalu, saya melihat pangkalan ojek
di dekat kantor kita.

Drivernya selalu tidak terlihat.
Saya kesal karena tidak bisa memesannya. Tapi, itu keren juga
karena mereka mengambil pesanannya. Ternyata ada konsumen riil untuk ini. Drivernya bekerja sangat baik
dan bisa melakukan lebih banyak daripada yang saya bayangkan. Itu keren dan memang ada./
Itu menarik. Kekuatan platform Gojek adalah
bisa menjadi sangat berguna untuk B2B. Ada peluang sangat besar dalam B2C.
Bisa jadi dua-duanya. Itulah alasan kita menjadi sebesar
dan sesukses ini. Saya bertemu para driver Ciasem kemarin.
Mereka ada di konvoi. Saya masih ingat laki-laki di samping saya
dulu sering bersama menunggu giliran memakai kamar mandi. Mulyono adalah driver pertama kita.
Saya yang merekrutnya. Ada informasi bagi audiens.
Kami baru saja melakukan rebrand. Ini logo baru kami yang disebut Solv.
Mirip driver Gojek jika dilihat dari atas. Ini juga bagian dari roda.
Itu cukup berhasil. Tapi, kamu memang betul. Kita akhirnya bekerja sama
dan menggabungkan perusahaan kita.

Kita sudah melewati banyak tantangan
dalam menggabungkan perusahaan kita. Ada guncangan budaya.
Berbagai masalah organisasi kita hadapi. Bagaimana dampaknya pada hubungan kita? Tidak terlalu berdampak.
Contohnya, saya dan Aldi sering bertemu. Pada akhirnya,
kesepian sangat terasa bagi pendiri. Saat bersama, kita membicarakan pekerjaan,
tapi sebagai dua perusahaan. Untuk Ruma dan Midtrans,
kita membicarakan tantangan yang dihadapi. Saat kita bertemu dengan santai,
kita membicarakan pekerjaan, berdiskusi. Di Beer Hall tahun 2014,
kita bertiga membicarakan pekerjaan. Pekerjaan. Itu minat kita./
Sekarang kita membicarakan pekerjaan, kan? Apakah itu berubah
saat kita ada di perahu yang sama kini? Sekarang Gojek cukup besar
dan tiap orang punya masalah sendiri. Sama saja saat perusahaan kita berbeda. Saat kamu mengurus masalah dengan driver,
Ryu mengurus masalah merchant online. Kita punya masalah yang sama dalam budaya.
Contohnya, cara merekrut orang. Kita membicarakan cara mendirikan akademi
untuk engineer karena sulit menemukan engineer bagus
yang gajinya bisa kita bayar waktu itu.

Kita membicarakan
cara meningkatkan perusahaan. Mencari gedung kantor dan potensi masalah
dengan regulator dan mitra. Kita punya banyak masalah sekarang,
tapi ada dalam platform baru yang sama. Hal lain yang mengubah saya adalah
kita bersedia lebih saling membantu. Karena dulu perusahaan kita berbeda,
saya akan senang membantu tapi bantuan saya terbatas
karena ada tiga perusahaan berbeda. Karena kita bersatu sekarang,
kemauan membantu jadi jauh lebih tinggi. Kita bekerja sebagai tim. Kita harus bahas proses bergabungnya kita.
Ini pasti akan sangat menarik.

Kita berbicara terpisah, kan?
Saya bicara kepada kalian secara terpisah. Dalam perjalanan, kalian mulai berbicara
dan berkonspirasi melawan saya. Bagaimana itu terjadi? Kamu bicara pertama kali dengan siapa?/
Dengan kamu dulu. Betul, saya ingat
kalian sudah bekerja bersama. Saya ingat./
Ceritakan, Ryu. Waktu itu kamu berpikir mengembangkan Pay.
Kamu mendekati saya untuk menjalankan Pay. Saya sangat ragu
karena tahu bahwa Pay adalah B2C. Pay itu metode pembayaran./
Kamu dulu B2B. Saya dulu B2B. Saya bilang ke Nadiem bahwa ada orang lain
yang lebih baik untuk menjadi CEO. Betul.
Kamu yang memberi saya ide tentang Aldi. Tidak, kamu bilang jangan khawatir
saya sudah memikirkan hal lain untuk Aldi. Betul. Lalu, kamu mendatangi saya
dan membahas 1 super-app untuk Indonesia. Saya pikir itu ide menarik. Saya dulu cuma menjual.
Tidak pernah terpikir itu akan terwujud. Saya ingat
kalian dulu baru saja mendapatkan izin. Ruma sudah mulai memberi jasa finansial.

Kami memiliki izin
untuk melakukan percontohan perbankan yang membantu orang menabung di desa. 10 sen sehari agar anak-anak bisa kuliah. Saya ingat momen pertama
yang membuka mata saya. Seorang perempuan datang ke acara kita
tentang menabung. Dia berkata tidak bisa menabung lagi.
Dia bilang ingin menjadi driver Gojek. Banyak orang sangat sulit bergabung
karena permintaan tinggi menjadi driver. Kita bertemu di acara MOE
di Hotel Sahid Jaya. Kita membuat video, “Hai, Mbak Apiah.
Selamat datang di Gojek. Selamat.” Kita menerima dia di Gojek.
Dia bisa mengumpulkan penghasilannya. Itu luar biasa. Waktu itu suaminya tidak ada
dan tidak punya penghasilan.

Dia bilang hanya bisa mendapatkan uang
dengan mengendarai sepeda motor. Kapan itu? November 2016?/
Ya. Sekitar November 2016. Mapan menuntaskan masalah di sisi lainnya
dalam cara mengurangi pengeluaran. Saya tidak terlalu membantu
dalam cara kamu memperoleh penghasilan. Semua pemimpin arisan di Mapan perempuan. Bagaimana kita membantu mereka
memperoleh penghasilan? Kita melakukan percontohan di Jogja. Para suami menjadi driver Gojek
dan istri menjadi pemimpin arisan. Saya ingat kamu tidak hadir di sana,
tapi mengirim Andre, seperti biasa. Penghasilan rumah tangga meningkat pesat.
Mereka langsung menjadi kelompok menengah. Saya ingat itu. Itulah momen saya menyadari
ini adalah kombinasi yang efektif. Saya ingin mengatakan ini
dengan jujur dan terbuka. Dengan aspirasi yang kita miliki,
kita membahas kemungkinan bertemu lagi. Kalian ingat, kan?/
Ya. Ada diskusi yang terbuka dan jujur. Ini hal yang sangat penting
dalam hubungan antarpendiri. Keterbukaan dan kejujuran tentang visi,
konflik, dan persaingan membuat kita membahas langkah ke depan. Kita semua berteman. Kita punya visi yang persis sama
tentang memberdayakan Indonesia melalui teknologi. Memberdayakan bagian bawah piramida
dan usaha kecil. Apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita mengembangkan sendiri
dan akhirnya bertemu lalu saling bersaing? Atau haruskah kita membangun aliansi
dan bertarung bersama melawan cara lama? Tidak ada yang salah dengan persaingan.
Persaingan itu sehat pada level tertentu.

Kita sepakat bisa mencapai tujuan bersama
dengan lebih cepat. Kolaborasi membuat merchant, pelanggan,
dan driver mencapai tujuan lebih cepat. Kita bekerja bersama sebagai tim./
Betul. Itu hal tentang Gojek yang menarik saya. Pada suatu titik, kita bekerja bersama. Kita bekerja bersama
di konferensi teknologi. Ya. Boost Asia 2012. 2012.
Konferensi teknologi pertama di Indonesia. Saya tahu kita akan bisa bekerja bersama
dan kita berdiskusi. Kita bekerja bersama.
Saya tahu kita akan bisa bekerja bersama. Kita selalu mencoba mencari cara
bekerja bersama, tapi belum tahu. Saat kamu bisa menggalang dana …/
Sama-sama. Terima kasih.
Kita berkembang dan punya peluang. Tapi, jujur, itu bukan keputusan mudah. Ryu orang yang paling menolak
mengambil risiko sejak lama. Lalu kalian berdiskusi.
Ceritakan tentang diskusi itu.

Ya, saya ingat.
Tidak akan pernah lupa. Waktu itu saya di Bali untuk berlibur
dan mencoba mencari cara. Saya berselancar
dan baru kembali dari laut. Kamu menelepon saya
dan kita membahas tawaran untuk bergabung yang sama-sama kita dapatkan. Saya tidak tahu waktu itu.
Itu momen pertama saya. Kita berdiskusi
dan membahas risikonya tinggi dan lajunya sangat cepat. Kita lebih konservatif
dalam menggalang dana. Pada satu titik, kita memutuskan
jika kamu terjun, saya juga terjun. Kamu yang bilang itu./
Saya, kan? Kamu terjun, saya terjun./
Itu momen Titanic. Ya. Itu momen Titanic untuk kita berdua. Tunggu. Siapa yang bilang begitu?/
Aldi yang bilang begitu ke saya. Aldi bilang kamu terjun, saya terjun?/
Ya, saya pikir begitu. Ini tentang pembayaran.
Kami berasal dari sisi pembayaran berbeda. Ryu sangat paham tentang sisi merchant
dan cara memastikan bisnis mendapatkan layanan yang baik.

Saya ada di sisi pelanggan. Saya melakukan pembiayaan pembayaran
yang sama cukup lama. Saya pikir tidak akan bisa melakukannya
tanpa Ryu. Jika kita akan melakukan ini,
kita harus berdua supaya bisa meyakinkan Nadiem. Jadi saya bilang kamu terjun, saya terjun. Kalian manis sekali.
Terima kasih telah saling menguatkan. Tapi, jujur saja, dan saya serius. Kita tidak akan bisa berada di sini
dengan skala Gojek sekarang tanpa adanya perusahaan kalian. Kalian mengambil alih
beberapa bagian terpenting di Gojek. Mungkin kita masih akan berjuang sekarang
untuk mencari kemampuan organisasi, terutama kalian sebagai leader
yang mampu menghentikan saya melakukan kesalahan terbodoh
yang mungkin saya lakukan. Kamu berpikir begitu? Platform Gojek sekarang cukup kuat
dan tetap bisa sampai ke titik sekarang, tapi mungkin butuh waktu agak lebih lama. Jauh lebih lama.
Itu butuh pemikiran banyak.

Waktu itu saya punya engineer
berkualifikasi tinggi terbanyak karena saya punya dana paling banyak. Saya bisa saja berpikir
untuk membangun ini sendirian. Mengapa saya tidak membangun sendirian?
Di situ kepercayaan dan pertemanan masuk. Setelah memahaminya, saya berpikir ulang. Hanya karena kamu bisa melakukannya
bukan berarti kamu akan sukses. Waktu itu Gojek selalu sukses
melakukan banyak hal sendiri. Jadi, kita akan bisa sangat mudah
masuk ke dalam pola itu. Saya melakukan semuanya sendiri.
Tapi, kita berhenti dan berpikir. Pembayaran itu bidang yang sangat berbeda. Merchant dan pembayaran
adalah bidang yang sangat berbeda. Ini bidang dengan margin kesalahan
sangat tipis. Struktur pengaturan, proses peluncuran,
dan MVP pembayaran sangat berbeda dengan jasa berkendara
atau pengiriman makanan. Saya mulai menyadari ada elemen lain.
Saat itu ada beberapa co-founder Gojek Menjadi pendiri, memulai perusahaan dari 0
adalah pekerjaan paling kesepian di dunia. Saya tidak tahu alasannya,
tapi ini memang betul.

Kamu merasa sangat kesepian
karena semuanya selalu berakhir di kamu. Jadi, penting untuk memiliki
dua pendiri superstar lain dan mendapatkan dukungan mental,
bukan hanya berdebat, tapi bisa juga berempati
dan berkata saya mendukung kamu. Saya mengerti perasaan kamu.
Itu berarti sangat besar untuk saya. Saya langsung merasa tidak sendiri
saat kalian masuk. Meskipun saya punya tim yang luar biasa,
hal yang sangat mengubah saya adalah memiliki orang lain yang membangun bersama
dari nol. Banyak orang tidak mempertimbangkannya
dalam kisah pendirian startup. Dukungan mental dalam melewati hal ini
adalah salah satu variabel tertinggi yang akan membawa kita
pada kesuksesan atau kegagalan. Saya tak tahu apakah perasaan kalian sama,
tapi saya merasa tidak sendirian lagi dan bisa berdebat. Setuju.
Ryu, apa saat terberat kamu sebelum Gojek? Kapan kamu merasa
mengalami tahun atau bulan terburuk? 17 September 2016./
Apa yang terjadi? Sistem saya down selama 24 jam./
Ya, saya ingat itu. Kita langsung bertemu setelah itu. Itu hari terburuk dalam hidup saya.
Itu sangat sulit.

Saat kamu membicarakannya sekarang,
wajah kamu berubah. Karena itu mengingatkan saya.
Saya pikir saya akan bangkrut. Sebagai gerbang pembayaran,
kamu tidak bisa down. Kamu harus memiliki SLA tinggi. Saya membangun terlalu banyak fitur baru
dan tidak terlalu berfokus pada keandalan. Hal itu sangat mengubah cara pandang saya. Waktu itu, saya di rumah
dan berdiskusi dengan ayah saya. Dia adalah salah satu investor terbesar
di Midtrans. Saya meminta maaf
karena saya mungkin akan bangkrut. Dia bertanya apakah saya punya uang
untuk membayar gaji karyawan bulan ini? Saya punya. Bagaimana dengan bulan depan?/
Saya punya berkat dana ayah. Dia bertanya, bulan depannya lagi?/
Saya punya. Apa maksud pertanyaan ayah? Dia berkata dengan sangat cepat,
hanya ada dua cara kamu bisa bangkrut. Kamu kehabisan uang
atau kamu berhenti mencoba. Jadi, asalkan kamu masih punya uang,
jangan berhenti mencoba. Lanjutkan usaha kamu.
Kamu akan bisa bertahan. Kamu paranoid. Saya ingat saat kamu berbicara ke saya,
kamu paranoid dengan perasaan mitra kamu. Kamu tidak yakin
apakah kamu bisa meraih kepercayaan lagi.

Betul./
Itu kekhawatiran kamu. Itu kekhawatiran saya.
Itulah alasan saya mengira akan bangkrut. Ayah saya berkata
jika kamu berhenti mencoba, mereka tidak akan percaya lagi pada kamu. Jadi, saya mencoba lebih keras.
Saya mencoba lanjut. Tiap orang pasti mengalami momen itu. Saya suka pendapat kamu
tentang memiliki pendiri lain sebagai mentor. Selain kamu dan Aldi,
ayah saya adalah mentor saya. Dia sudah melewati krisis moneter 1998.
Dia sudah melewati banyak hal. Dengan jejaring mentor seperti itu,
kamu bisa melewati masa memulai perusahaan dan itu sangat berarti. Betul. Tiap saya menjadi pembicara,
audiens muda menanyakan panutan saya. Mereka mengharapkan jawaban klise:
Elon Musk, saya penggemar beratnya.

Tapi, jujur,
siapa mentor dan panutan kamu? Sangat sulit bagi seseorang
untuk menjadi panutan yang baik jika dia bukan mentor kamu sebenarnya. Sulit bagi seseorang untuk menjadi mentor
jika tidak sering berinteraksi dengannya untuk mendapatkan mutiara wawasan
dan kearifannya. Saya selalu berpendapat
dan saya menduga banyak orang berpikir saya ingin selalu benar
dan menyokong tim saya. Tapi, saya selalu berkata
bahwa mentor saya adalah anggota tim saya. Saya serius.
Saya belajar paling banyak dari mereka. Saya jujur tentang hal itu. Tidak ada gunanya memiliki mentor
atau panutan yang belum pernah kamu temui. Interaksi, mendengarkan banyak kisah gila
membantu saya melewati masa krisis saya. Untuk saya, waktu itu kiamat.
Sekitar 2016, saat kami ditutup. Ya, saya ingat. Gojek ditutup oleh Kementerian Perhubungan
dan kami dibuat ilegal. Waktu itu, keputusannya dibalikkan
dalam 24 jam oleh presiden. Itu luar biasa./
Betul. Itu hari terburuk dan terbaik saya
dalam 24 jam. Saya pikir saya selesai.

Hancur. Waktu itu, ada 200.000 driver.
Saya lupa angka persisnya. Apa yang akan mereka lakukan?
Ini pekerjaan dan penghasilan mereka. Ya Tuhan.
Apa yang harus kami lakukan? Siapa yang memberi kamu nasihat? Dalam 24 jam terburuk saya,
ayah saya memberi banyak nasihat. Siapa yang memberi kamu nasihat
saat 24 jam terburuk dalam hidup kamu? Ruang perang ide dibuka di rumah saya.
Saya bahkan tidak bisa pergi ke kantor. Saya terlalu stres.
Saya harus berada di zona nyaman saya. Saya undang semua orang ke rumah
dan membuka ruang perang ide. Kami bertukar pendapat tentang solusi. Hubungi tiap orang yang penting
dan mencari tahu hal yang harus dilakukan.

Tiap orang menelepon orang-orang penting
di pemerintahan, investor, dll. dan bertanya banyak hal
tapi tidak ada hasilnya. Presiden membalikkan keputusan itu
karena “Selamatkan Gojek” menjadi trending topic tertinggi
di Twitter. Saya yakin bukan hanya di Twitter
di Asia Tenggara, tapi di dunia karena Indonesia salah satu
pengguna Twitter terbesar di dunia. Untungnya, Gojek dipulihkan. Jika kita berhenti mencoba,
orang cenderung lupa. Startup bisa gagal.
Kita belajar tentang ini di HBS. Ingat, dua pertiga startup gagal. Alasannya, para pendiri memutuskan pergi.
Mereka berpendapat ini tak akan berhasil. Jadi, berhenti mencoba./
Berhenti mencoba. Ini bukan tentang uang,
tapi berhenti mencoba. Berhenti mencoba, bukan uang. Jika kamu terus mencoba,
masalah uang bisa teratasi, kan? Saya pikir kalian mengalami downtime
lebih singkat.

Momen terberat saya adalah 2013. Kami melakukan percontohan
perbankan nircabang untuk produk tabungan. Kami bermitra dengan bank
untuk menawarkan tabungan pendidikan. Itu berjalan. Puluhan ribu orang menabung pertama kali
karena tidak pernah memiliki akses ke layanan keuangan sebelumnya. Mereka menabung untuk pendidikan
anak-anak mereka. Saya ingat sedang berada
di tengah pelatihan. Saya pakai seluruh uang untuk mendatangkan
tenaga penjualan ke Kebun Raya Bogor. Saya menjelaskan cara kami merambah
ke tingkat nasional. Saya menandatangani lembar ketentuan B.
Kami akan masuk ke tingkat nasional. Saya ditelepon oleh kantor pusat, ada surat berakhirnya izin percontohan
pada bulan Desember itu. Saya berasumsi izinnya akan diperpanjang
karena kinerja kami baik, tapi saya salah.

Saya diminta untuk tutup
dan mengembalikan semua tabungan dan uang. Model bisnis saya jatuh dari bersiap maju
ke skala nasional menjadi nol. Itu gila./
Kamu tidak pernah menyerah. Tiap kali saya bicara dengannya
tentang model bisnisnya atau cara dia menjelaskan
perubahan bisnisnya. Saya tidak pernah menyerah./
Kamu punya rekor jumlah masalah terbanyak. Ya./
Kamu tidak pernah menyerah. Karena saya gagal terus.
Saya sangat kaget karena saya ditutup. Berbeda dengan kalian yang perlu 2-3 bulan
untuk mencari tahu jalan keluarnya, investor memberi saya waktu yang cukup. Dia bilang, jangan cemas.
Kamu akan bisa mencari jalan keluar. Saya mengembalikan semua uang
kepada semua nasabah perempuan. Mereka bertanya apa yang terjadi.
Mengapa kamu menghentikan ini? Salah satu dari mereka memberi saya ide
untuk memulai arisan. Dia berkata mengapa kamu tidak membantu
mencari barang-barang? Jika kami menabung,
tujuannya untuk membeli sesuatu. Mengapa kamu tidak membantu kami
menabung untuk membeli barang-barang dengan rekening tabungan bergulir? Itu menjadi model yang dipakai.

Dari kegagalan ini,
setelah berkeliling selama 3 bulan dan merasa tak berdaya dan mencoba
mencari tahu jalan keluarnya. Saya mendapat ide
dari salah satu pemimpin kita. Dia adalah penyokong mental saya. Dia berkata jika kamu terus mencoba
dan kita melakukannya, Pasti Ada Jalan./
Pasti Ada Jalan. Itu slogan baru kita. Untuk Gojek?/
Ya. Itu selalu bergaung dengan baik
pada banyak orang di Gojek. Bukan hanya kita yang merasakan
pengalaman pahit, merasa ingin menyerah. Kita tidak pernah menyerah. Agar audiens yang tidak mengerti
bahasa Indonesia tahu, Pasti Ada Jalan berarti
there’s always a way. Itu slogan untuk proyek baru. Itu sempurna.
Saya tidak menyadarinya. Rebrand. Itu slogan kita.
Itulah kita. Ini titik luar biasa
untuk mengakhiri diskusi. Bagi kalian yang melewati masa sulit
sebagai pendiri atau bagian tim, yakinlah bahwa pasti ada jalan. Terima kasih sudah hadir di podcast ini./
Terima kasih banyak. Semoga kita segera bertemu lagi./
Ya. Salam. Semoga kalian menyukai podcast ini. Jika kalian suka, klik like, subscribe,
dan ikuti kami di media sosial. Terima kasih sudah menonton kami..

Belajar Dapat Duit Dari Facebook Klik Di sini

Add a Comment

Your email address will not be published.

Name - City
Membeli Product Time